KONDISI FREKWENSI DI BATAM


Semalam saya bersama kepala sekolah yayasan Hang Tuah batam pergi kekantor KPID yaitu Komisi Penyiaran Indonesia Daerah, untuk menindak lanjuti izin siaran studio pemancar televisi yang sedang kami rakit. sebagaimana diatur dalam UU 32/2002 tentang Penyiaran legalitas tersebut mutlak adanya.
namun katanya di pulau batam sudah tidak lagi memiliki ketersiediaan chanel untuk broadcash pertelevisian swasta di batam, karna mengingat sudah ada 4 tv lokal dan 9 TV swasa nasional yang keseluruhan berada pada ULTRA HIGTH FREKWENSI ( UHF ), Kanal UHF: Ch. 22-62 (41 kanal)
dan untuk  satu wilayah layanan yang sama, untuk TV analog:Tidak bisa adjacent channel (kanal sebelahnya), sehingga kita harus Hindari selisih 9 kanal.

Jumlah maksimum teoritis dalam satu wilayah layanan terisolasi adalah 41:2 = 20 s/d 21 kanal. Tetapi tidak bisa semuanya digunakan, karena diperlukan untuk mengakomodasi daerah layanan sekitarnya, serta juga untuk jatah gap filler. Gap filler pemancar daya pancar kecil untuk menutup blank spot karena ada halangan, gedung tinggi, dsb.
sementara Di ibu kota propinsi, sepanjang memungkinkan, jumlah maksimum, dengan mempertimbangkan 7 kanal untuk jatah daerah sekitar lokasi tersebut, adalah maksimum menjadi 14 kanal. (mengambil jatah daerah yg bersebelahan). Dari 14 kanal, perlu dipertimbangkan 2 kanal untuk jatah TV digital. Catatan: Ch.22-25, di beberapa daerah digunakan penyelenggara selularan.
jadi dari pertimbangan ini solusi untuk kami dapat tetap melanjutkan penyiaran tingkat lokal adalah dengan membuka sebuah TV komunitas. yang katanya hanya dapat beroperasi dalam jarak pancar 4 km saja.
tapi hal ini akan menjadi titik awal langkah kami dalam menjalankan sebuah wadah untuk mencerdaskan anak bangsa dalam dunia pertelevisian, dan multimedia sembari menunggu beralih pada TV digital.

Komentar ditutup.